ISASC 2017: “Semoga Bertemu Lagi Tahun Depan!”

Peserta Presentasi ISASC 2017

Sebanyak empat puluh satu tim terpilih ditampilkan dalam konferensi ilmiah ISASC bertema Sustainable Development of Indonesia yang bertempat di Universitas Osaka, Jepang, pada hari Sabtu, 21 Oktober 2017. Tidak hanya dari kalangan peneliti profesional, ISASC 2017 turut menghadirkan mahasiswa-mahasiswa yang berkecimpung dalam bidang riset yang mereka kerjakan. Salah satunya adalah Titius Kurnia Dinata yang berasal dari Universitas Indonesia. Dalam ISASC 2017 ini, Titius memberikan presentasi mengenai hasil penelitiannya yang berjudul Cultural Landscape Pattern of Javanese and Sundanese Ethnicity in Borderline Region of West Java and Central Java. Penelitian tersebut membahas topik linguistik yang unik, yakni perbedaan bahasa Jawa dan Sunda di kawasan perbatasan antara dua provinsi.

Titius mengungkapkan bahwa dia memperoleh informasi mengenai ISASC 2017 dari laman Facebook PPI Osaka-Nara (PPI ON) dan tertarik untuk mempublikasikan hasil penelitiannya di sana. “Kebetulan saya punya teman yang sedang berkuliah di Osaka dan menginap di tempatnya untuk menghemat biaya. Ketika saya datang ke Jepang untuk datang ke ISASC 2017, saya terkejut bahwa teman saya itu ketua PPI ON yang bernama Ahmad Jafar Arifi,” ucap Titius.

Menurut Titius, ISASC 2017 merupakan kegiatan yang sangat menarik sekaligus ajang untuk menyebarluaskan hasil penelitiannya. Dia memaparkan, “Saya dapat menyalurkan ilmu saya di bidang Geografi Budaya yang saya sangkut-pautkan dengan sosiologi, etnologi, linguistik, dan sejarah. Saya senang bertemu dengan Dr. Yumi Sugahara dan Prof. Stefano Tsukamoto. Saya berharap mereka berdua bisa menyempurnakan riset saya terutama dalam bidang linguistik bahasa Jawa dan geografi.”

Titus pun menceritakan bahwa dia memerlukan waktu lebih dari setahun untuk mengumpulkan data penelitian. Data tersebut kemudian diolah menjadi lebih sederhana namun masih dalam konteks yang holistik. “Banyak pengalaman seru yang saya lakukan ketika melakukan penelitian, seperti ke desa terpencil di pulau Jawa—baik Jawa Tengah maupun Jawa Barat—hanya dengan motor thrill dan bertemu hewan liar di gunung. Karena desa itu terpencil, saya menemukan banyak perbedaan antara bahasa Jawa Pesisir, Jawa Pedalaman, Sunda Pesisir, Sunda Pedalaman, dan campuran di antara keduanya. Penelitian itu tidak akan saya lupakan terutama dengan teknik eksplorasi di mana saya harus memasuki desa per desa untuk mendapatkan sampel bahasa, cerita asal usul toponimi atau linguistik nama daerah, dan kesenian yang berkembang. Banyak yang saya lalui ketika penelitian dan sulit diceritakan jika tidak bertemu langsung atau hanya menulis di media sosial Line,” lanjutnya.

Ketika ditanya mengenai kendala dalam mempersiapkan presentasi di ISASC 2017, Titius mengaku tidak menemui kesulitan apa pun. Untuk ke depannya, Titius mengemukakan harapannya usai berpartisipasi dalam ISASC 2017. “Saya berharap profesor atau dosen ahli bahasa seperti Yumi Sugahara bisa bekerja sama dalam menyempurnakan penelitian saya. Saya juga berharap profesor Geografi dan Sosiologi di Universitas Osaka seperti Profesor Kenji Tsutsumi dan Renya Satoh bisa bertukar pikiran atau melanjutkan riset saya secara lebih lanjut bersama saya dalam membahas comparative cultural studies. Semoga ada kesempatan bertemu lagi tahun depan.

Penulis: Dhira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *