Mengawali Tahun Baru dengan Hatsumode

Suasana hatsumode di Yasaka Shrine, Kyoto (sumber foto: www.naturelicious.com)

Berbeda dengan Indonesia, dimana tahun baru selalu diramaikan dengan maraknya pertunjukan kembang api, Jepang memiliki cara tersendiri untuk merayakan tahun baru. Pernah dengar istilah “hatsumode”? Hatsumode (初詣) berarti kunjungan pertama ke kuil pada tahun baru. Shinto merupakan salah satu kepercayaan yang dianut mayoritas orang Jepang. Pada masa tahun baru, biasanya tujuh hari pertama, orang Jepang berbondong-bondong ke kuil untuk berdoa, memohon keberuntungan untuk satu tahun ke depan.

Hatsumode dimulai sejak tanggal 1 Januari tengah malam, ditandai dengan lonceng besar kuil yang dibunyikan berkali-kali tepat saat pukul 00:00. Rombongan pengunjung biasanya sudah mengantri sejak dua jam sebelumnya, membentuk antrian yang sangat rapi di depan gerbang kuil. Tepat pada pukul 00:00 saat gerbang dibuka, pengunjung diperbolehkan masuk dan dibagi menjadi beberapa giliran agar kuil tidak terlalu penuh.

Pedagang jajanan di kuil (sumber foto: hatumoudesupot.blog.so-net.ne.jp)

Setelah memasuki gerbang, kita akan disambut oleh barisan pedagang makanan dan minuman khas Jepang, seperti amazake, senzai, yakitori, karaage, dan lain-lain. Nikmat sekali disantap saat musim dingin. Jika kita berjalan terus ke arah bangunan kuil, akan tampak barisan orang-orang yang mengantri untuk berdoa. Di sisi-sisi kuil, biasanya dijual berbagai omamori atau jimat keberuntungan. Omamori memiliki banyak jenis tergantung tujuannya, misalnya omamori agar lulus ujian, selalu sehat, usaha lancar, bahkan untuk percintaan juga ada. Desainnya cantik dan ukurannya relatif kecil agar bisa digantung atau disimpan di tas.

Omamori (sumber foto: kyoto-power-spot.hatenablog.jp)

Hal lain yang tidak boleh terlewatkan adalah omikuji, yaitu kertas berisi ramalan keberuntungan. Level keberuntungan berbeda di tiap kuil, tapi secara umum urutannya adalah daikichi (大吉), kichi (吉), chuukichi (中吉), shoukichi (小吉),  lalu kyou (凶), dimana “kichi” berarti beruntung dan “kyou” berarti sial. Tak jarang pula omikuji ini dibagi jenisnya menjadi omikuji umum dan omikuji percintaan. Jika mendapat kichi, silakan membawa pulang kertasnya, namun jika hasilnya sial, terdapat kepercayaan untuk mengikat kertasnya di tempat yang sudah disediakan, agar kesialannya “ditinggal” di kuil.

Omikuji (sumber foto: www.yukawanet.com)

Tradisi hatsumode ini sangat menarik, bukan? Karena sangat kental dengan budaya, bagi yang bukan penganut kepercayaan Shinto pun, hatsumode dapat dijadikan pilihan kegiatan saat melewati tahun baru di Jepang. Tertarik untuk mencoba hatsumode tahun depan?

Penulis: Tamara

Editor: Nindya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *