Pengalaman Studi di Jepang

Jawaban bersumber dari buku “Japan I am coming” karangan Ibu Murni Handayani, M.Sc, PhD yang saat ini bekerja sebagai assistant professor di Chemistry Department, Division of Physical Organic Chemistry, Graduate School of Science, Osaka University.

 


Banyak hal yang saya peroleh saat kuliah ke LN di Jepang dimana hal ini mungkin tidak saya dapatkan jika saya kuliah di Dalam Negeri antara lain:

  1. Kita bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi orang asing.

Di Indonesia kita punya banyak saudara, dan sebagai orang islam kita adalah mayoritas sehingga kita tidak pernah merasakan bagaimana rasanya jadi orang minoritas dan berbeda. Saat saya pertama kali tiba disini serasa hidup sendiri di dunia, buta huruf bahasa Jepang yang penuh kanji sehingga beli gula ternyata garam sehingga saat membuat teh manis jadinya sangat getir keasinan. Di saat keluarga sudah menyusul kesini semakin tahu arti perjuangan hidup yang sesungguhnya, di saat anak sakit saya dan suami harus berjuang bergantian mengurus anak dibalik kewajiban berangkat kuliah dan tugas kuliah serta kewajiban saya melakukan eksperimen di lab, kesulitan mencari dokter yg bs bahasa Inggris, selalu menerima surat tidak paham isinya padahal sangat penting. Dari hal ini lah empathy semakin terasah, rasa ingin bisa menolong teman dan juga membuat banyak saudara di perantauan semakin kuat.

Begitu halnya dengan identitas saya sebagai muslim, awalnya banyak yang melihat saya aneh, dan kadang tatapan mereka pun berbeda. Awal disini pun banyak pertanyaan dari teman kampus dan juga orang Jepang seperti kenapa saya menggunakan kerudung, kenapa saya tidak boleh makan daging, kenapa tidak boleh minum alcohol dll. Disini saya bisa menjadi identitas sebagai seorang muslim, dan jika kita konsisten dan mempunyai perilaku yang baik, mereka melihat bahwa islam ternyata indah dan peaceful, bukan seperti yang diberitakan di media. Bahkan saya mempunyai teman yang sudah seperti saudara sendiri, walau mereka tahu banyak perbedaan justru mereka mengingatkan kita seperti di saat waktu sholat atau saat membeli makanan.

  1. Kuliah di Jepang membuat saya harus pintar membagi waktu di kampus dan juga

untuk keluarga, berusaha memanfaatkan waktu seefisien mungkin. Hal ini karena kampus di sini buka selama 24 jam. Di satu sisi sangat menguntungkan kita karena kita bisa bebas melakukan eksperimen setiap hari dan juga mengerjakan tugas di lab tanpa diburu-buru waktu dengan kenyamanan suasana dan kelengkapan fasilitas di kampus. Akan tetapi di satu sisi saya harus bisa meluangkan waktu untuk keluarga sehingga perlu manajemen waktu yang baik. Saya tidak ingin mengorbankan keluarga karena kuliah saya, tetapi saya justru ingin dengan saya kuliah ini kehidupan keluarga menjadi barokah. Suasana kuliah di Jepang berbeda dengan di Indonesia dimana masuk jika ada kelas kemudian selesai kelas trus pulang, eksperimen jika ada mata kuliah percobaan dan juga pada saat penelitian untuk skripsi.

Di Jepang , setiap kampus punya lab di bawah seorang professor. Nama lab adalah nama professor. Contohnya di lab saya, Ogawa Lab. Nama Ogawa adalah Professor saya Prof. Takuji Ogawa. Satu lab di tempat saya terdiri dari sekitar 25 murid dengan staff Professor, satu associate professor dan satu asisten professor serta satu sekretaris lab. Untuk kuliah di bidang sains dan tehnik yang berdasarkan riset seperti di lab saya, Professor memberikan aturan untuk datang pagi sebelum atau sekitar jam 10 pagi. Alhamdulillah saya sangat bersyukur mendapatkan professor yang sangat baik.

Di lab setiap murid di beri meja belajar lengkap dengan rak buku serta komputer dan juga meja eksperimen untuk mengerjakan penelitian. Jam pulang biasanya sekitar jam 6-7 malam, tapi jika eksperimen belum selesai atau ada tugas lain yang harus dikerjakan karena deadline, maka kita bisa lebih lama di lab karena setiap murid mempunyai kunci. Nah, dalam satu hari itu kita sendiri lah yang harus bisa mengatur waktu kita dengan baik, jika ada kuliah/kelas kita berangkat ke kelas, selesai kuliah kita balik ke lab untuk melakukan penelitian. Skill penelitian disini terasah baik karena setiap hari kita melakukannya, di samping kita belajar dan mengerjakan tugas dll. Bagusnya adalah pekerjaan kita terkontrol setiap hari karena lingkungan. Untuk yang ambil kuliah di bidang sosial tidak ada eksperimen, jadi pasti punya banyak waktu luang. Selepas kuliah ya bisa pulang karena tidak ada yang dilakukan lagi di kampus.

  1. Hasil studi kita terkontrol, selain itu kita secara otomatis belajar presentasi setiap bulan

karena ada progress report, sehingga ini mengasah kemampuan bahasa asing dan kemampuan presentasi oral di depan orang banyak. Di lab saya, progress report dilakukan setiap hari rabu dan setiap meeting ada 4 orang yang harus melaporkan kemajuan penelitiannya, jadi setiap orang bisanya mendapat giliran sekali dalam 1-2 bulan, saya harus merangkum semua data, kemudian membuat slide presentasi dan saat meeting di depan Professor dan semua member tersebut, saya mengutarakan hasil penelitian dengan pencapaian dan kendala serta rencana ke depannya. Selain progress report meeting, juga ada study meeting dan journal meeting, walau satu sisi kita sibuk karena banyak tugas tetapi menurut saya ini justru memotivasi kita untuk belajar dan punya pengalaman banyak.

  1. Untuk mengerjakan penelitian, saya tidak perlu memikirkan harga bahan-bahan kimia,

tinggal memesan dengan menulis di buku order, sehari kemudian bahan kimia tersebut akan diantarkan oleh perusahaan kimia yang menjadi langganan lab saya. Bayangkan kalau setiap hari kita membeli bahan kimia dengan uang sendiri, bahkan di lab saya karena bidangnya adalah sintesis nanomaterial yang menggunkan banyak senyawa organic serta alat-alat yang supermahal. Carbon nanotube (CNT) 100 mg ada yang berharga 4-5 juta, menggunakan emas murni 1 gr untuk dievaporasi, tip alat SPM dan AFM yang juga mahal sekali karena di lapisi emas atau platinum. Dalam sebulan bisa menghabiskan biaya ratusan juta untuk melakukan riset.

  1. Selalu berada di Lab membuat dekat dengan teman-teman di lab, juga banyak acara dengan

mahasiswa Internasional sehingga punya koneksi global

  1. Saat hari libur, kita bisa menikmati budaya Jepang dgn pergi ke beberapa tempat saat hanami

(sakura), dll. Sering berkumpul dengan teman-teman Indonesia atau menikmati budaya Jepang seperti hanami saat sakura mekar, momiji saat daun memerah atau bermain salju. Selain itu banyak sekali acara-acara dimana kita menjadi duta bagsa Indonesia dan sekaligus memupuk persaudaraan seperti acara-acara yang diadakan oleh persatuan pelajar Indonesia Osaka-nara (PPI-ON) spt pengenalan budaya indonesia di acara pentas seni Indonesia, pengenalan masakan Indonesia di acara ichosai dan machikanesai, mengikuti pengajian sebuan sekali oleh MO (pengajian Muslim Osaka ), PORMAS dll. Bersyukur saya kuliah di Osaka dimana jika dikumpulkan pasti ada hampir seratus warga Indonesia di sini dan rasa kekeluargaan yang begitu kental.

  1. Walau saya kuliah di jepang, saya bisa berkeliling benua dan berkunjung ke beberapa Negara

seperti Amerika, Eropa, Malaysia, China, dll. Berkunjung ke kampus ternama di dunia seperti MIT dan Harvard University, dll. Berkenalan dengan professor, peneliti dan mahasiswa dari banyak negara. Di lab saya, jika kita mempunyai hasil penelitian yang bagus, professor akan mengirimkan kita untuk mengikuti seminar internasional dan mempresentasikan hasil penelitian kita di seminar/konferens tersebut. Semua biaya akan di tanggung oleh universitas atau lab, sehingga kita mempunyai kesempatan mengunjungi beberapa negara yang kita inginkan. Walau begitu, pasti tugas banyak yang harus kita lakukan karena kita harus mempersiapkan banyak hal sebelum mengikuti seminar tersebut seperti data penelitian, membuat slide atau poster, mendaftar visa ke negara tujuan dll.

  1. Culture shock ketika berkuliah di Jepang: saat awal awal disini pasti mengalaminya, apalagi

saya waktu itu sama sekali belum siap ke Jepang dan nol besar bahasa jepang. Saya akan kesini tetapi tidak mencari tahu kondisi disini bagaimana, jadi saat kesini saya susah bicara dgn orang Jepang dalam kehidupan sehari hari orang jepang bny yang tidak bs bahasa inggris. (sama spt di Indonesia, bhsa inggris bny dipakai saat di univ)

  1. Kemudian musim juga, karena disini 4 musim dan sampai sini saya waktu itu bulan Oktober

sudah dingin menurut saya..kulit langsung kering dan pecah pecah sampai mengelupas. Saat musim panas disini sgt lembab jadi gerah sekali, kemudian juga harus hati-hati membeli makanan utk orang muslim. karena banyak makanan yg tidak bisa dimakan (haram) krn mengandung alkohol, minyak babi dll

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *