Person of the Month: Dendi Krisna Nugraha dan Kardo Deodatus Girsang

Setelah menaklukkan tim-tim lain dari berbagai negara, Deodatus Kardo Girsang dan Dendi Krisna Nugraha selaku perwakilan Indonesia menjadi pemenang lomba badminton ganda putra di OUISA (Osaka University International Students Association) Sports Festival bulan November lalu, loh. Mari kita telusuri kisah mereka dalam meraih gelar juara tersebut 🙂

Dendi dan Kardo, Juara I Lomba Badminton Ganda Putra OUISA Sport Festival 2017

Keterangan:

P=Publisher

D= Dendi

K= Kardo

 

P: hai Kak Kardo dan Dendi, sebelumnya mau kenalan dulu dong. Tolong deskripsikan diri kalian dalam 3 kata sifat, ya!

D: keras kepala, kompetitif, banyak akal

K: kompetitif, cuek, pantang menyerah

 

P: sama-sama kompetitif ya ternyata. Sudah berapa lama kalian main badminton?

K: saya mulai main badminton sejak kelas 3 SD, persisnya setelah menonton Taufik Hidayat menang di final Thomas Cup tahun 2000. Sejak itu, saya bergabung dengan klub badminton sekolah dan rutin latihan.

D: di dekat rumah saya ada lapangan, sejak kecil saya sering main badminton di sana dengan teman-teman walaupun ugal-ugalan. Mulai kelas 6 SD, saya mulai serius badminton dengan mengikuti Persatuan Bulutangkis setempat. Sewaktu SMP, saya juga pernah mengikuti pertandingan badminton single putra. Kalau untuk tanding dalam tim, baru saya lakukan sejak mengikuti Pormas PPI.

 

P: wah, keren banget. Jadi sejak kapan kalian mulai bermain sebagai tim dan bagaimana perjalanannya?

D: sejak Pormas PPI tahun lalu, tapi itu salah banget.

K: iya, ada kesalahan dalam persiapannya. Pormas diadakan bulan Maret, tetapi kami tidak kebagian tempat latihan selama dua bulan sehingga tidak bisa latihan sama sekali. Akhirnya, pertama kali main setelah dua bulan dan tidak ada pemanasan sama sekali, penampilan kami jadi hancur.

 

P: yah, sayang sekali, tapi untungnya terbayar dengan menang di OUISA Sports Festival ini, ya. Boleh bagi-bagi pengalaman selama persiapan lomba? Kendala apa saja yang dihadapi?

K: setelah kegagalan di Pormas itu, kami jadi introspeksi diri. Harus ada yang booking lapangan tiap bulan. Setiap minggu pokoknya harus latihan rutin. Kecuali ketika musim panas di bulan Agustus, kami tidak main karena terlalu panas.

D: kami juga menambah porsi latihan dengan main badminton bersama tim Vietnam. Mereka juga punya semacam persatuan pelajar yang rutin latihan badminton setiap minggunya. Tim Vietnam ini lumayan kuat dan kebetulan kami melawan mereka pada pertandingan final OUISA Sports Festival. Karena sudah sering latihan bareng, kami jadi sudah tahu karakteristik dan kelemahan para pemainnya.

 

P: ceritain juga dong keseruan selama pertandingan? Lawan seperti apa yang dihadapi?

K: sebenarnya ada unsur keberuntungan juga. Tahun lalu pemain ganda putra itu kuat-kuat, tetapi tahun ini ada kelas ganda campuran sebagai kategori baru di OUISA  Sports Festival. Nah, sebagian besar  pemain ganda putra ini pindah ke ganda campuran sehingga kami punya lebih banyak kesempatan untuk menang.

D: sebetulnya Kardo itu ikut dua pertandingan bersamaan: ganda campuran dan ganda putra. Keduanya sama-sama tembus semifinal. Kardo harus milih antara saya atau pasangannya di ganda campuran untuk lanjut ke babak berikutnya sebab jadwal tandingnya bentrok. Itu lucu banget karena saya dan pasangannya Kardo di ganda campuran (seorang cewek Jepang) sampai berjajar di depan Kardo lalu bilang ‘silakan pilih’, hahaha. Akhirnya Kardo pilih lanjut yang ganda putra.

 

P: wah, terus kenapa Kak Kardo pilih Dendi, nih? *kepo*

K: lebih prestige aja, hehehe, tapi keduanya sama-sama jago, kok.

D: tapi partner-nya Kardo ini jadinya nonton pertandingan kami dan ikut mendukung. Dia senang banget juga ketika kami akhirnya menang.

 

P: pasti seru banget ya babak finalnya! Terus, bagaimana rasanya jadi juara lomba badminton OUISA?

D dan K: biasa aja.

 

P: masa biasa aja sih, ada senangnya dong pasti?

K: iya senang kok, tapi biasa aja karena tahun lalu kami sudah pernah jadi juara meski cuma peringkat dua dan tiga.

D: bahkan panitianya sudah bosan dengan kami dan sampai bilang ‘yah lu lagi lu lagi yang main’ dan ketika kami menang mereka juga bilang, ‘menang lagi ya?’

 

P: luar biasa ya para juara ini, kasih tips buat warga ON yang ingin turut berprestasi dalam bidang olahraga dong :3

K: saya rasa animonya tiap tahun menurun. Saya kagum lihat tim Vietnam yang dedikasinya tinggi. Mereka sampai mengantre tempat latihan dari satu jam sebelumnya supaya kebagian, padahal tempat latihan mereka itu biaya sewanya lebih mahal daripada tempat kita biasa latihan. Peminatnya juga lebih banyak. Sedangkan kita di sini tempatnya sudah di-booking sejak jauh hari, orang-orang tinggal datang, dan biaya sewanya lebih murah juga, tetapi yang datang malah lebih sedikit.

D: masalahnya kita masih kurang tantangan. Untuk jadi juara,kita harus mau menambah porsi latihan. Kita juga masih kurang disiplin. Awalnya masih banyak yang rutin latihan, tetapi lama kelamaan jadi sedikit yang datang. Yang datang ke Osaka itu yang pintar sudah banyak, sebaiknya diseimbangkan juga dengan prestasi di bidang lain.

 

P: menurut kalian, apa sih kunci kesuksesan bekerja dalam tim?

D: harus tahu karakter masing-masing dengan baik. Saya dan Kardo mulai mengenal permainan satu sama lain setelah OUISA Sports Festival tahun lalu, tetapi waktu itu kami sudah punya pasangan masing-masing. Sejak itu,merasa gaya mainnya cocok, kami memutuskan jadi tim dan ‘jadian’ deh. Kayak pacaran, yang paling penting dalam tim badminton itu chemistry  dan komunikasi.

K:  iya, harus tahu sifat masing-masing dan saling mengenal. Harus mengerti teknik main masing-masing. Contohnya saya kalau main badminton lebih suka mengatur penempatan shuttlecock di lapangan, sedangkan Dendi lebih agresif. Posisi saya lebih sering di belakang sementara Dendi di depan. Dengan karakteristik bermain seperti itu, kami jadi melengkapi kemampuan satu sama lain.

 

P: sebagai pelajar, bagaimana cara kalian membagi waktu antara akademik dengan organisasi/olahraga?

D: porsinya jauh beda sih antara akademik dan olahraga. Kita sudah eksperimen setiap hari di laboratorium, seharusnya olahraga itu tidak jadi kegiatan yang membebankan karena hanya dua jam seminggu. Olahraga itu penting supaya badan segar dan bisa lebih fokus saat eksperimen, haha. Berhubung usia sudah segini, harus mulai memikirkan pentingnya kesehatan juga.

K: menurut saya harus dijadikan kebiasaan. Di ekstrakurikuler badminton sewaktu SMP dan SMA dulu, saya diberi porsi latihan sebanyak empat kali seminggu. Tiap kali latihan durasinya tiga jam. Tapi akhirnya jadi terbiasa. Jadinya, kalau tidak olahraga, untuk eksperimen pun jadi kurang bersemangat. Latihan seminggu sekali seperti sekarang pun rasanya masih kurang, makanya terkadang kami tambah dengan latihan bersama tim Vietnam.

 

P: sebagai pertanyaan pemungkas, siapa sih pemain badminton favorit yang menginspirasi kalian?

K dan D: Kevin Sanjaya dan Marcus Fernaldi Gideon

K: Saya suka spirit Kevin dan Gideon. Mereka masih muda jadi semangatnya tinggi banget. Kalau Gideon, pembawaannya lebih tenang selama bermain.

D: Gideon itu penentu permainan banget sebetulnya, tetapi kurang terekspos. Karena masih muda juga, Kevin dan Gideon ini sangat agresif dan meledak-ledak. Agak sombong tapi wajar karena jago, haha.

 

Demikian hasil bincang-bincang seru bersama Dendi dan Kak Kardo selaku jawara yang mengharumkan nama Indonesia di ajang lomba badminton. Tidak heran mereka jadi juara tim ganda putra, bahkan selama wawancara pun mereka sangat kompak dalam melengkapi jawaban masing-masing, loh. Terima kasih untuk Kak Kardo, Dendi, dan seluruh atlet PPI ON yang telah berpartisipasi dalam OUISA Sports Festival lalu. Semoga terus berprestasi baik dalam bidang olahraga dan akademik, ya. Sukses selalu! 🙂

 

 

Salam, ON Publisher

Penulis: Dhira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *