Sanggar Budaya PPI Osaka-Nara

Arrow
Arrow
PlayPause
Slider

Mereka yang datang ke Jepang untuk jangka panjang sebenarnya memiliki misi tersembunyi. Ketika tiba di Jepang, pertanyaan tentang Indonesia tidak akan bisa dihindari. Baik pertanyaan itu berasal dari orang Jepang atau pun orang dari negara lain. Mungkin salah satu hal yang sering ditanyakan adalah makanan. Nasi goreng dan mie goreng nampaknya menjadi makanan Indonesia yang berhasil “go internasional”. Jika Anda pernah mengalami percakapan seperti itu, selamat! Anda secara tidak langsung Anda telah menjadi “agen rahasia” kebudayaan Indonesia.

Sebagai orang Indonesia yang berada di luar negeri, identitas keindonesiaan kita akan menjadi sumber informasi mengenai kebudayaan-kebudayaan Indonesia. Maka tidak heran jika PPI di negara manapun memiliki wadah untuk memperkenalkan kebudayaan seni dan budaya Indonesia tersebut, dan di PPI Osaka Nara wadah itu bernama Sanggar Budaya (Sangbud).

Sangbud masih sangat muda karena baru terbentuk pada tahun 2014, tepatnya bulan Desember 2014. Namun, pastinya Sangbud tidak langsung muncul begitu saja namun mempunyai sejarah yang sangat panjang sebelumnya. Berawal dengan memperkenalkan angklung sebagai salah satu kebudayaan Indonesia, PPI Osaka-Nara mempunyai grup kecil yang dinamakan dengan “Osaka Angklung Club”. Grup inilah cikal bakal lahirnya Sangbud di tahun 2014.

Osaka Angklung Club (OAC) merupakan grup angklung yang didirikan oleh para senior PPI Osaka-Nara.  Entah dari kapan resminya OAC memulai kegiatan mengenalkan angklung di bumi Osaka ini. Semangat senior-senior yang namanya masih terdengar sampai sekarang seperti Mas Kemal, Teh Nurma, Mas Ryanto dan banyak lain yang pastinya turun-temurun meneruskan kegiatan mengenalkan budaya Indonesia melalui Angklung ini tersampaikan sampai sekarang sehingga lahirlah Sanggar Budaya Osaka-Nara.


Di tahun 2014, PPI Osaka-Nara mengadakan Pentas Seni Indonesia 2014 (PSI 2014) yang tidak hanya menampilkan angklung tetapi juga tari saman dari Aceh. Dari situ, ketua OAC bertugas Okie Dita mengajukan sejumlah anggaran untuk pembelian kostum tari saman dan juga penambahan angklung pada ketua PPI Osaka-Nara yang bertugas yaitu Mas Gagus. Dengan ini, budaya Indonesia yang bisa dikenalkan ke khalayak Jepang di Osaka-Nara tidak hanya angklung, oleh sebab itu atas beberapa saran dari senior, lahirlah Sanggar Budaya Osaka-Nara.

Status para anggota sangbud yang umumnya adalah pelajar, maka tentu belajar dan penelitian menjadi prioritas utama. Sehingga meskipun idealnya sangbud menjadwalkan latihan satu bulan dua kali, namun kenyataannya jadwal latihan disesuaikan dengan jadwal para anggota yang harus “nongkrong” di lab. Namun biasanya jadwal latihan akan menjadi lebih sering ketika mendekati hari tampil.

Kegiatan yang telah dilakukan umumnya memang berskala kecil yang diadakan oleh organisasi kebudayaan sekitar. Meskipun demikian setiap tahun selalu ada undangan untuk menampilkan kesenian Indonesia. Memang kesenian yang mampu kita tampilkan cukup sederhana, hanya penampilan angklung, saman, atau terkadang jaipong. Karena memang kami kekurangan Sumber Daya Manusia yang berkompetensi untuk menampilkan kesenian Indonesia, meskipun bukan tergolong profesional. Oleh karena itu bagi mereka yang memiliki keterampilan di bidang seni dan budaya sangat kami nantikan untuk bergabung di Sangbud.

Dengan bergabung di Sangbud setidaknya ada dua keuntungan yang mungkin didapat. Pertama, bagi yang belum pernah mempelajari tarian ataupun musik tradisional, Sangbud menjadi tempat yang tepat untuk mempelajari keterampilan baru. Sedangkan bagi yang sudah pernah mempelajari tarian ataupun musik tradisional, Sangbud menjadi tempat yang tepat untuk mencurahkan bakat terpendamnya. Keuntungan kedua bagi yang memiliki ambisi untuk menjadi orang terkenal ataupun yang pernah mengikuti ajang pencarian bakat, namun tereliminasi, maka Sangbud adalah yang tepat untuk menjadi terkenal, tidak tanggung-tanggung langsung “go International”.

Salah satu contohnya adalah acara Pentas Seni Indonesia 2015 tahun lalu yang diadakan oleh PPI Osaka-Nara. Sebuah acara pentas kesenian yang dikemas dengan konsep drama epos ramayana sebagai pengatur alur penampilan. Tentu, dengan alur cerita yang telah dirombak untuk kepentingan aliran penampilan pentas seninya. Hasilnya adalah lahirnya bintang-bintang baru seperti Hanoman yang diperankan oleh Okie Dita dan Rama yang diperankan oleh Tengku. Tingkah kocak Hanoman membuat para penonton yang umumnya orang Jepang terbahak-bahak. Sedangkan tokoh Rama yang berwibawa memberikan kesan unik tersendiri bagi penonton. Pada acara ini sendiri Sangbud menampilkan angklung, tari saman, tari kecak, dan tari jaipong. Berkat acara ini panggilan untuk “manggung” pun lumayan bertambah.

Misi utama sangbud memang memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat Jepang, meskipun hanya diberi uang transport saja. Tetapi jika setelah selesai acara memang ada panitia yang berbaik hati menyampaikan “rasa terima kasih” untuk sekedar menghilangkan dahaga tentu tidak akan kami sia-siakan.

Misi yang boleh dikatakan cukup besar adalah menarik minat para anak muda Jepang untuk mengapresiasi seni budaya Indonesia. Karena Sampai saat ini acara-acara kebudayaan selalu didominasi oleh para sesepuh. Meskipun, bukan hal yang mengherankan mengingat populasi Jepang memang berbentuk piramida terbalik. Salah satu yang baru bisa sangbud lakukan saat ini adalah tidak hanya membawakan lagu-lagu Indonesia, tetapi juga membawakan konten-konten yang populer di masyarakat Jepang. Kedepannya tentu kami harapkan aman ada terobosan baru.  

Ayo bergabung bersama Sanggar Budaya PPI Osaka-Nara!

Penulis:

Samsul Maarif & Okie Dita Apriyanto

Kumpulan Video Penampilan Sanggar Budaya!

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *