Serunya Maen Kuda Lumping Saat Undokai

Undokai adalah festival olahraga yang diadakan di sekolah setiap tahunnya di Jepang. Waktunya diadakan sekitar akhir September atau awal Oktober karena pada saat itu cuaca sudah mulai tidak terlalu panas. Ajang ini biasanya sangat dinanti para orang tua karena mereka bisa melihat berbagai macam atraksi yang ditampilkan oleh anak-anak mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Atraksi itu bisa berupa lari estafet, memasukkan bola, tari-tarian, atau bentuk ketangkasan lainnya.  Dan yang paling saya suka adalah atraksi membangun piramida manusia oleh murid-murid kelas 6. Untuk membangun semangat kompetisi yang sportif, biasanya ada dua tim yang bertanding Tim merah (赤組/Akagumi) dan Tim Putih (白組/Shirogumi). Yang pasti menonton undokai itu selalu mengasyikkan dan siapa sangka ternyata ada yang spesial di undokai SD Koriyama kali ini.

Tahun ini adalah tahun ketiga Haqqi ikut tampil di undokai  sekolahnya. Seperti biasa Haqqi bersemangat menceritakan kalau sebentar lagi ada undokai. Tiba-tiba ia bercerita bakalan ada tarian kuda lumping di undokai sekolahnya. Hah? Kuda Lumping? Beneran? Yang terbayang tentang kuda lumping adalah atraksinya saat makan pecahan kaca, hehe. Namun, Haqqi terlihat serius dengan ceritanya. Saya berpikir apa iya? Lalu mengapa tiba-tiba tari kuda lumping muncul dalam agenda undokai kali ini?

Beberapa hari kemudian ia kembali bercerita bahwa kuda lumping yang tersedia hanya empat dan ia berharap menjadi salah satu yang bisa memegangnya pada saat tampil. Saya menanggapinya dengan senyum dan mengatakan pasti ia bisa menjadi salah satu pemegang kuda lumping itu.

Dua hari sebelum undokai, gurunya menelpon minta tolong diterjemahkan dua kalimat dalam bahasa Jepang ke dalam bahasa Indonesia pada kertas yang dititipkan ke Haqqi. Saya yang kemampuan membaca kanjinya pas-pasan harus berkonsultasi dulu pada penerjemah ahli bahasa Jepang yang ada di PPI ON. “Kalau mengikuti arti sesungguhnya nanti kepanjangan bu, disingkat saja,” saran sang ahli. Akhirnya saya putuskan dua kalimat itu menjadi “Ayo semangat!” dan “Semangat terus!”

Hari undokai pun  tiba, Haqqi lebih dulu berangkat ke sekolah. Kami baru tiba di sekolah pukul 9 pagi dan acara baru saja dimulai. Keterlambatan kami yang cuma sepersekian detik itu mengakibatkan kami tak mendapatkan tempat dibawah tenda karena sudah dipenuhi semua orangtua murid. Buat saya tidak jadi masalah karena memang pengalaman tahun lalu pun saya nyaris tidak duduk karena sibuk foto sana sini tiap atraksi. Tapi situasi itu menunjukkan betapa seriusnya para orangtua menghadiri event ini. Bahkan,  kakek neneknya pun terkadang ikut datang.

Saat acara seremonial pembukaan, Tim Merah dan Tim Putih berbaris rapi di lapangan. Begitu pertandingan akan segera dimulai, ada sedikit pengumuman yang tentu saja cuma sayup-sayup saya mengerti, dan tak lama Haqqi muncul di depan panggung sambil berkata “Ayo semangat! Semangat terus!”. Tentu saja dengan ucapan kalimat yang hanya sekejap itu para hadirin mungkin tak terlalu mengerti artinya tapi bagaimana pun saya sangat mengapresiasi pihak sekolah yang menggunakan kalimat dalam bahasa Indonesia sebagai salah satu kata penyemangat.

Setelah atraksi pembuka oleh anak kelas 5 dan 6, kami sempatkan menemui Haqqi untuk memberikan semangat. Tak lama kemudian, anak-anak kelas 3 dan 4 masuk ke arena lapangan dan mulai menari tarian dari negeri Tiongkok. Tarian itu selesai, anak-anak berlari ke pinggir lapangan berganti atribut dan akhirnya tari kuda lumping muncul! Diiringi alunan musik yang khas Jawa banget. Ahhhh jangan tanya gimana terharunya saya. Sebanyak 73 anak menari, 4 diantaranya memegang kuda lumping, dan salah satunya adalah Haqqi. Tarian kurang lebih 5 menit itu benar-benar kami nikmati. Bukan, bukan hanya karena Haqqi tampil tapi juga karena takjub kalau tarian kuda lumping dari Indonesia itu bisa hadir disini, iya disini di sebuah SD di pinggiran Osaka dimana hanya ada satu murid yang berasal dari Indonesia. Hanya satu-satunya. Buat saya, ini suatu penghormatan besar buat kita sebagai orang Indonesia. Tarian itu diakhiri dengan tepukan meriah dari para hadirin. Well done!

Usai tarian, guru wali kelas Haqqi menghampiri kami di pinggir lapangan dan berkata “Yokatta, yorokonde minna.”  Semua senang. Dari beliau saya akhirnya tahu kalau SD Koriyama waktu itu mengundang penari kuda lumping dari suatu sanggar budaya di daerah Ibaraki. Kemudian mereka tertarik untuk menjadikannya salah satu tarian di undokai. Mereka pikir pasti Haqqi akan senang dan tentunya bisa menjadi kenangan indah buatnya. Pihak sekolah mendatangkan khusus orang Indonesia untuk mengajarkan tari Kuda Lumping. Anak-anak berlatih dalam waktu kurang dari sebulan. Niat banget ya, jadi terharu…

Saya mengungkapkan terimakasih kepada mereka atas pilihan menampilkan tarian khas Indonesia. Saya, yang berada nun jauh di negeri orang, merasa amat dihargai atas apa yang mereka lakukan. Itu mungkin bukan hal penting buat mereka. Akan tetapi penting banget buat saya karena penghargaan mereka terhadap budaya kita. Saya merasa harus lebih mencintai budaya Indonesia yang kita miliki, melestarikannya dengan segala upaya yang kita bisa. Untaian episode undokai dan kuda lumping ini juga menyadarkan saya bahwa menjadi minoritas tak selalu mendatangkan kesusahan, justru mungkin akan bisa membawa banyak kebaikan dan kegembiraan. Haqqi dengan warna kulit yang berbeda, bentuk mata yang berbeda, dan budaya yang berbeda dengan anak-anak Jepang itu justru diberi ruang dan kesempatan untuk berbangga atas perbedaan yang dia miliki.

Undokai kali ini ditutup dengan kemenangan Tim Merah  (赤組/Akagumi), tim dimana Haqqi bergabung. Lengkaplah sudah kegembiraannya di undokai tahun ini. Otsukaresamadeshita!

Tak berhenti sampai disitu, beberapa hari setelah undokai, pihak sekolah datang ke rumah dan meminta saya datang sebagai guru tamu di sekolah untuk menjelaskan lebih jauh tentang Indonesia serta mengajarkan permainan tradisional anak-anak Indonesia. Ternyata setelah ada tarian kuda lumping, murid-murid menjadi ingin lebih banyak tahu tentang Indonesia. Haqqi yang terkadang merasa sedih karena berbeda sendiri, menjadi amat bersemangat karena teman-temannya banyak bertanya tentang Indonesia. Sesuatu yang berbeda, memicu rasa ingin tahu anak-anak itu, dan para guru memfasilitasi agar para anak-anak bisa memahami tentang perbedaan itu dan berusaha menghargainya. Ah mereka harus tahu, kuda lumping itu cuma satu dari sekian banyak khasanah budaya Indonesia, kuda lumping itu tarian yang berasal dari satu etnik dari bermacam-macam suku yang ada di Indonesia.

Ya, Kuda lumping di undokai kali ini sungguh membawa banyak cerita dan tak bisa dipungkiri:

Saya bangga jadi orang Indonesia!

Penulis:
Narila Mutia Nasir

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *